Minggu, 23 Oktober 2011

Penyakit Kanker InsyaAlloh Sudah Tidak Berbahaya Lagi ..

Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat
memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman
“KELADI TIKUS” (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman
obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker
dan berbagai penyakit berat lain.
Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya
tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. “Tanaman
ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa,” kata Drs.Patoppoi Pasau,
orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia .
Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris
K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti
Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga
perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan
pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris , Australia , Selandia Baru,
Singapura, dan berbagai negara di dunia.
Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di
Pekalongan, Jawa Tengah.
Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan
harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut
diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi
(suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran
sel-sel kanker tersebut.
“Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan
wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan
rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan,” jelas
Patoppoi.
Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus
berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan
informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati
kanker. “Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli
teh tersebut,” ujar Patoppoi yang juga ahli biologi.
Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia , secara tidak
sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang
berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan
1996.
“Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut.
Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi,
tapi langsung pulang ke Indonesia ,” kenang Patoppoi sambil tersenyum.
Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.
Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat
Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman
tersebut.
Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya
di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka
menemukan tanaman itu di sana . Setelah mendapatkan tanaman tersebut
dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia
untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.
Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan
bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. “Dr Teo mengatakan
agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,” lanjut
Patoppoi.
Akhirnya, dengan tekad bulat dan do’a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai
memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku
tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi
putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan
tanaman tersebut.
“Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di
pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut
tumbuh liar di pinggir sungai,” kata Boni yang mendampingi ayahnya
saat itu.
Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami
penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti
rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. “Bahkan nafsu makan
ibu saya pun kembali normal,” lanjut Boni.
Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani
pemeriksaan kankernya. “Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh
mengejutkan kami
Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang
diberikan pada isterinya. “Malah mereka ragu, apakah mereka telah
salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami,” lanjut Patoppoi.
Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter
pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar
mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak
mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan
pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam
bulan sekali.”Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak
mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai
pengobatan alternatif,” sambung Boni sambil tertawa.
Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan
keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian
menghubungi Dr.Teo melalui fax untukmenginformasik an bahwa tanaman
tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk
menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia.
Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu
apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,” sambung
Patoppoi.
Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam
bahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan
agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha
nyata membantu penderita kanker di Indonesia.
Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis
mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa
Pos, Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala,
penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan
salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan
di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil
menyembuhkan pasien tersebut.
“Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos,”
ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan.
Dalam
Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim
stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi.
Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku
dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos.
Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien
tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi,
karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.
Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi
berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung.
Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen
Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang ,
Malaysia . Di kantor Pusat Cancer Care Penang , Malaysia , Patoppoi
mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat
ditemukan memiliki nama Indonesia .
Ternyata saat Patoppoi mendapat buku “Cancer, Yet They Live” edisi
revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku
tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan
kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi
mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya ..
Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan
lembaga sosial Cancer Care Indonesia , yang juga disebutkan dalam
buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta
, telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo.
Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut
secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus
dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai
tananaman lainnya dengan dosis tertentu. “Dosis yang diperlukan
tergantung penyakit yang diderita,” kata Boni.
Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir
Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus
obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar 40-60 Ringgit
Malaysia ,” lanjut Boni.
“Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik
keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan
perpanjangan waktu pembayaran. ” tambahnya.
Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah
satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker
ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat
sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini.
Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi
pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh
rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani
kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut,
kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah.
Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini
menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk
membantu proses penyembuhan kemoterapi.
Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami
penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi
dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini
belum resmi diteliti di Indonesia
Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai
pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai
“ter-kun” atau dokter-dukun.
“Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan
modern,” kata dokter tersebut.
Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan
bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan
sabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat
kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III,
pasien tersebut
mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan,
karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari
peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba
tersebut.
“Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus,
dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul
resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi,”
sambung Boni sambil tertawa.
Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat
serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit
sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus,
beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa
kesakitan.
Menurut data Cancer Care Malaysia , berbagai penyakit yang telah
disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker
payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher
rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas,
dan hepatitis. Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan
milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna
bagi dunia kesehatan.
Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan
dengan artikel “Obat Kanker” bisa menghubungi perwakilan lembaga
sosial
“Cancer Care Indonesia “
Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta
telp : 021-4894745.

Jumat, 21 Oktober 2011

5 HAL (LAGI) YANG HARUS DIKETAHUI TENTANG HIV/AIDS ..

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. HIV hanya bisa ditularkan lewat aktivitas yang mengakibatkan pertukaran darah, cairan kelamin maupun air susu. Selain itu tidak bisa menular. Jadi setiap orang bisa saja berisiko. Uniknya, ketika HIV masuk ke tubuh tidak langsung memunculkan gejala, setelah 5-10 tahun baru akan memperlihatkan gejala sakit, karena saking lemahnya daya tahan tubuh. Tetapi sebelum nampak sakit, sejak awal dia sudah bisa menularkan virusnya. So, cuma lewat tes darah baru bisa mengetahui seseorang mengidap HIV atau tidak.

Sejak kasusnya di Bali pertama kali diketahui tahun 1987, hingga September 2007 telah tercatat 1508 kasus. Jumlah perkiraan sesungguhnya yang ada sekitar 4000an kasus, yang 2700 dari penularan lewat seks, yang 1300 dari narkoba suntikan (putaw). Sebagian besar adalah dari kalangan anak muda. Jadi sekarang sudah saatnya remaja, para grommet & surfer untuk memahami AIDS dengan lebih cerdas.

Nah, ini lima hal lagi yang harus diketahui tentang HIV/AIDS.

1. Masih Saja Ada Remaja Yang Suka Gonta-ganti Partner Seks Dengan Percaya Diri Bilang Kalau Dia Tidak Mungkin Kena HIV
Banyak yang percaya bahwa selama badan sehat, rajin olah raga, rajin fitness dan selalu minum vitamin tidak akan kena masalah jika gonta-ganti pacar, hingga seringkali akhirnya melakukan hubungan seks tanpa kondom. Kenapa berani tanpa kondom, karena dilihat partner seksnya juga bersih dan jauh dari kesan berpenyakit. Kalau tidak yakin, sebagian mencoba minum antibiotik sembarangan yang dianggap bisa mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual). Tapi, apa ini semua benar? Tentu saja salah besar.
Fakta: Siapa yang bisa memastikan seseorang positif HIV tanpa melalui tes darah? Ingat, selama 5-10 tahun pertama HIV tidak memperlihatkan gejala apapun. Jadi tetaplah setia dengan pasangan, atau pakai kondom bila sering melakukan aktivitas berganti pasangan seksual. Antibiotik hanya bisa diminum atas petunjuk dokter dan bukan untuk mencegah HIV.

2. HIV Tidak Pilih-Pilih Orang
Sejak kemunculannya diketahui dunia 26 tahun lalu, pandangan orang termasuk para remaja sampai hari ini masih saja sering keliru. Mereka masih percaya hanya kelompok-kelompok tertentu saja yang bisa mengidap HIV/AIDS. Remaja menganggap hanya kalangan gay, pecandu putaw dan pekerja seks saja yang dapat tertular. Tapi, tentu saja ini cuma mitos.
Fakta: Setiap orang berpotensi terinfeksi HIV. Baik itu orang tua, anak muda bahkan anak kecil, laki-laki maupun perempuan, kaya dan miskin, gelandangan atau para surfer sekalipun. HIV dapat menginfeksi siapa saja yang tidak melakukan tindakan pencegahan.

3. Ternyata Remaja Lebih Takut Hamil Daripada HIV/AIDS
Banyak remaja percaya satu-satunya risiko yang paling ditakuti dari berhubungan seks tanpa kondom hanyalah kehamilan. Akibatnya untuk mencegah kehamilan, para remaja mencoba-coba dengan teknik oral seks atau melakukan sanggama terputus. Tentunya, sekali lagi jangan ikuti pemikiran ini.
Fakta: Sayangnya, ada banyak hal yang mestinya harus lebih ditakuti remaja. Antara lain adalah risiko terkena IMS. Jenis IMS seperti Herpes, Sifilis, termasuk HIV seharusnya lebih menjadi perhatian remaja ketimbang sekadar hamil di luar nikah. Sebab, sekali terkena, mereka akan menderita sepanjang hidup.

4. ìBlow Jobî Tidak Seaman Yang Kamu Pikirkan
Karena pengaruh bacaan dan video porno, aktivitas oral seks makin sering dilakukan. Banyak remaja percaya bahwa oral seks pasti aman. Sebab, para remaja berpikir bisa terbebas dari risiko hamil dan tertular penyakit. Sayangnya, ini juga mitos.
Fakta: Oral seks tidak seaman yang remaja pikirkan. Banyak penelitian menunjukkan, pada mereka yang tertular HIV, konsentrasi virus HIV baik di cairan sperma maupun cairan vagina juga tinggi. HIV bisa masuk melalui aliran darah di selaput lendir rongga mulut.

5. Tentu Saja HIV Belum Bisa Disembuhkan
Obat ARV (Anti Retroviral) termutakhir telah berhasil memangkas tingkat kematian akibat AIDS hingga 80%. Obat-obatan ini juga kini lebih mudah dikonsumsi daripada sebelumnya. Banyak yang percaya bahwa ARV adalah segala-galanya. Tentu saja ini perlu dipikirkan kembali dengan secermat-cermatnya, karena tidaklah sesederhana itu.
Fakta: Mereka yang terinfeksi HIV sesungguhnya dapat hidup lebih lama, namun ARV dapat mengakibatkan efek samping, harganya masih mahal, dan harus dikonsumsi setiap hari seumur hidup. Apabila kelewatan terlalu banyak dosis obat, HIV dapat menjadi kebal. Dan sayangnya, meski menjalani perawatan medis, seorang pengidap HIV belum bisa sembuh total. Jadi bukan ARV yang segala-galanya, tetapi upaya pencegahan diri tetap yang nomer satu.

Well, buat para remaja, sebisa mungkin jangan dulu berhubungan seksual, atau tetap setia dengan pasangannya. Buat yang memilih punya pasangan banyak dan berganti-ganti pastikan selalu menggunakan kondom. Jangan pernah juga menggunakan narkoba apapun alasannya. Then, cari tahu fakta-fakta tentang AIDS yang benar dan buang jauh-jauh mitos-mitos yang menyesatkan. So, Keep The Promise, Stop AIDS!(okanegara)